Mempersiapkan Diri untuk Berkompetisi

Dari masa ke masa, dunia terus-menerus mengalami perubahan, manusia pun dipaksa untuk dapat beradaptasi dengan segala perubahan yang terjadi di dunia. Jika tidak mampu beradaptasi, maka akan gagal dalam kompetisi. Salah satu contoh yang bisa kita pelajari adalah kegagalan merek ponsel Nokia dalam bersaing dengan pasar ponsel pintar.

Pada tahun 1998, Nokia merupakan merek ponsel nomor satu di dunia. Walaupun banyak pesaing bermunculan, Nokia masih menguasai pangsa pasar ponsel dunia sebesar 50.1% hingga akhir tahun 2007. Namun, seiring dengan semakin tingginya kompetisi di bidang ponsel pintar, pada sekitar pertengahan tahun 2013 pangsa pasar Nokia jatuh hingga menjadi 3.1%.

Apa yang membuat Nokia gagal berkompetisi? Ada banyak hal yang membuat merek besar ini akhirnya runtuh, namun salah satunya adalah “kesombongan”, merasa terlalu besar untuk gagal, merasa sudah cukup baik dan menutup diri untuk melakukan perbaikan, baik secara produk maupun secara organisasi.

Pelajaran yang dapat diambil yaitu sering kali kita sebagai manusia terlena dengan kesuksesan yang sudah diraih, kemudian menjadi tinggi hati dan arogan. Hal ini berbahaya karena membuat seseorang berhenti belajar dan lama-kelamaan tanpa disadari kehilangan daya saing dan tidak mampu berkompetisi dengan para kompetitor.

Lantas, apa saja yang harus kita lakukan atau pelajari agar dapat menjadi individu yang mampu berkompetisi? Berikut penulis merangkum beberapa hal yang mungkin dapat diperhatikan:

  1. Pahami tren dan pengaruhnya

Ingatkah Anda ketika penggunaan mesin tik akhirnya digantikan oleh komputer pada sekitar tahun 1980-an? Bayangkan jika Anda tidak mengikuti tren dan masih menggunakan mesin tik, sungguh sangat tidak efisien. Agar dapat maju, kita harus memahami tren. Jika tren tersebut baik dan membuat pekerjaan menjadi jauh lebih efisien, maka kita harus mempelajari tren itu.

Sebagai contoh, dalam industri 4.0 ada istilah “Big Data”, di mana ukuran dan jumlah data lama-kelamaan semakin besar dan untuk mengolahnya tidak cukup hanya dengan menggunakan Microsoft Excel. Banyak perusahaan sudah menerapkan bahasa pemrograman seperti Python, Java, SQL dan lainnya untuk mengolah data. Dengan memahami tren, maka kita mendapatkan gambaran keahlian apa saja yang harus kita pelajari agar dapat menjadi individu yang unggul.

  1. Berpikiran terbuka

Ketika ada hal atau cara baru dalam mengerjakan sesuatu, tak jarang kita bersikap skeptis dan menolak perubahan. Namun, ketika hal atau cara baru tersebut dilakukan banyak orang, barulah akhirnya kita percaya dan “terpaksa” untuk ikut berubah. Bersikap skeptis dan berhati-hati adalah wajar, tetapi bagaimana jika sikap ini berlebihan dan malah membuat kita kehilangan peluang?

Sebagai contoh, berapakah dari kita yang memiliki toko tradisional dan sudah membuka toko secara online? Beberapa mungkin sudah dan beberapa belum. Tahukah Anda, berdasarkan laporan yang diterbitkan Bank Indonesia, Indonesia merupakan pasar E-commerce terbesar di Asia Tenggara dan diproyeksikan akan tumbuh hingga 800% pada tahun 2022 dibandingkan tahun 2017. Jika kita masih bertahan dengan toko tradisional, maka tidak akan menjadi bagian dari pertumbuhan ini.

  1. Mampu melihat peluang

Pernahkah Anda mendengar kata-kata “Di Mana Ada Masalah, Di Situ Ada Peluang”. Kata-kata berikut pasti sudah tak asing di telinga kita. Ya, di mana ada masalah, disitu ada peluang.

Menyambung contoh pada poin pertama, jika perusahaan harus menggunakan bahasa pemrograman untuk mengolah data, maka muncul masalah baru yaitu tenaga kerja yang memiliki keahlian menggunakan bahasa pemrograman. Jika ingin mengembangkan karir, maka bisa memanfaatkan peluang ini dengan mempelajari keahlian tersebut.

Menyambung contoh pada poin kedua, dengan menyadari pertumbuhan E-commerce di masa yang akan datang, maka pemilik toko tradisional dapat memanfaatkan peluang dengan membuka toko online.

Leave a Reply

Your email address will not be published.