Kegagalan dan Kesuksesan

Semua orang pasti pernah mengalami kegagalan dalam hidupnya. Tidak sedikit orang yang mampu keluar dari kegagalan tersebut dan akhirnya berhasil meraih kesuksesan. Mengapa demikian? Hal ini disebabkan oleh cara seseorang merespons suatu kegagalan. 

Sering kali kita berpatokan pada pepatah “Kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda”. Namun, apakah benar kegagalan merupakan kesuksesan yang tertunda? Kebanyakan dari kita tentu menyadari bahwa ada orang-orang yang sudah berjuang sedemikian keras, tetapi tetap menghadapi kegagalan demi kegagalan dalam hidupnya. Jikalau benar bahwa kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda, itu berarti seseorang yang sudah mengalami kegagalan akan dapat menggapai kesuksesan di kemudian hari. Sayangnya, kenyataan berkata lain. Mengapa hal ini bisa terjadi? Hal ini juga disebabkan oleh cara seseorang merespons kegagalan yang dialaminya. 

Bagaimana cara kita seharusnya merespons sebuah kegagalan yang kita alami? Kita perlu menyadari bahwa kegagalan adalah sebuah kepastian dalam hidup. Tidak ada orang yang tidak pernah mengalami kegagalan. Perbedaannya hanyalah ukuran dari kegagalan yang diderita oleh masing-masing orang. Ada yang mengalami kegagalan kecil, seperti seorang penjual gagal menjual barang dagangannya atau seorang murid yang gagal lulus ujian kenaikan kelas. Ada pula yang mengalami kegagalan besar dalam hidupnya, misalnya gagal dalam berbisnis sehingga mengalami kebangkrutan dan berhutang banyak atau kegagalan dalam mengarungi bahtera rumah tangga sehingga harus bercerai. Tidak bisa dipungkiri di dalam perjalanan hidup kita, kita dihadapkan pada kegagalan demi kegagalan yang terus datang. Alih-alih menganggap kegagalan sebagai sebuah kesuksesan yang tertunda, kita sebaiknya menganggap kegagalan sebagai sarana atau kesempatan untuk merevisi dan memperbaiki diri. 

Pada saat kita memfokuskan diri pada proses (merevisi diri) dan bukan pada hasil (kesuksesan), kita tidak lagi terbebani ketika mengalami kegagalan. Kita akan menghadapi kegagalan dengan hati yang lebih ringan. Kita tidak lagi terbebani untuk meraih kesuksesan setelah mengalami kegagalan. Asalkan kita terus merevisi dan memperbaiki diri kita dalam berbagai aspek kehidupan, tentu kesuksesan itu akan muncul dengan sendirinya. Sering kali pula kesuksesan itu datang dalam bentuk yang berbeda daripada apa yang kita bayangkan.

Lebih anehnya lagi, definisi kita terhadap kesuksesan akan berubah seiring dengan bertambahnya kualitas hidup kita. Kita yang tadinya menganggap bahwa menjadi seseorang yang kaya raya adalah ukuran sebuah kesuksesan dalam hidup, akan menyadari bahwa kesehatan dan keluarga yang harmonis adalah tolak ukur kesuksesan yang sebenarnya. Tidak percaya? Cobalah dan buktikan sendiri! 

Leave a Reply

Your email address will not be published.