Idealnya Memuji Anak

Tanpa kita sadari, beberapa dari kita sering mengatakan secara spontan kalimat pujian kepada anak, seperti “anak pintar”. Ternyata pujian ringan yang sering kali terucap dari mulut kita bisa memberi dampak psikis bagi anak tersebut. Memuji anak sebenarnya bermanfaat untuk membentuk harga dirinya (self esteem) asal dilakukan dengan proporsional (porsi yang pas) berdasarkan pada kualitas, bukan kuantitas.

Pujian yang berlebihan atau sering diucapkan dapat mengaburkan standar ideal pada anak. Jangan memuji secara berlebihan pada hal-hal yang mudah untuk dilakukannya atau memang menjadi tanggung jawabnya! Hal ini membuat anak mengerti hal apa yang perlu usaha ekstra untuk dilakukan (menjadi tantangannya). Jika hal tersebut berhasil dilakukan, ia akan menghargai pujian yang diterima. Sebaliknya kalau tidak berhasil, ia tidak berkecil hati karena ia sudah menikmati proses atas usahanya tersebut. Hal ini memberi pandangan kepada anak agar tidak berfokus pada hasil dan pujian, tetapi berfokus pada proses dan usahanya dalam belajar menyelesaikan tantangannya.

Jadi, orang dewasa idealnya belajar untuk memuji anak atas perilaku yang memang pantas diberi pujian. Misalnya, memuji anak karena ia sudah giat belajar sehingga lulus ujian dengan hasil memuaskan, bukan memuji “pintar” karena ia mendapat nilai bagus. Pujian atas usaha keras yang dilakukannya dalam belajar akan membuat pola pikirnya berkembang. Pola pikir ini nantinya akan membantu perkembangannya dalam segala aspek kehidupan, termasuk dalam hubungan sosial hingga dunia kerja.

Hindari memuji anak dalam bentuk label, walau label positif sekalipun! Hal ini berdampak kurang baik bagi anak karena ia akan selalu berusaha hidup dalam label tersebut supaya orang tua senang atau sayang padanya. Padahal, ada beberapa faktor bawaan lahir yang berada di luar kuasa anak untuk mengubahnya. Misalnya, orang tua sering memuji “anakku yang cantik atau “anakku yang ganteng”. Saat ada yang mengatakan “berparas jelek” pada dirinya, ia tidak dapat menerima.

Hindari juga memuji anak karena ingin membujuknya untuk melakukan sesuatu! Hal ini akan membuat anak memiliki pamrih. Ia bisa menunjukkan perilaku yang diinginkan orang tua, tetapi hanya bersifat sementara. Pada saat pujian tersebut tidak didapatkan, maka perilaku yang diharapkan orang tua belum tentu dilakukan si anak.

Memuji anak tidak perlu membandingkannya dengan anak-anak lain. Hal ini dapat menumbuhkan rasa sombong dan berpotensi membuat anak merendahkan orang lain. Kalimat pujian yang harus dihindari, misalnya, “Duh, pintarnya anak Mama sudah bisa makan sendiri. Sepupu kamu belum bisa loh. Kamu hebat!”

Niat yang baik dapat berakibat buruk kalau dilakukan dengan cara yang salah, berlebihan, atau tidak pas waktu dan kondisinya. Kita perlu memperhatikan he qing, he li, dan he fa. Kita sebaiknya memuji anak dengan tulus, proporsional, dan berfokus pada usahanya, bukan hasilnya. Semoga pujian yang diberikan dapat membentuk anak menjadi tangguh dan mempunyai pola pikir yang matang menuju usia dewasanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published.