
Apa yang pasti dalam kehidupan ini? Pertanyaan itu mungkin pernah terpikirkan oleh kita semua. Ya, memang tidak ada yang pasti dalam kehidupan ini. Yang pasti itu hanyalah “ketidakpastian” itu sendiri. Dari kita membuka mata, bangun dari tidur, sampai tidur lagi, hari-hari kita lalui dengan menghadapi suatu ketidakpastian.
“Apakah omset hari ini bisa lebih baik dari kemarin? Apakah si dia akan bayar hutang? Apakah barang dari si dia akan bagus kualitasnya? Apakah besok omset akan lebih baik? dan lain-lain”, itulah macam-macam pikiran seorang pedagang.
“Apakah hari ini Si bos akan marah-marah lagi seperti kemarin? Apakah gaji bulan ini akan naik? Apakah bonus bisa naik? Apakah deadline dan target kerjaan bisa tercapai? dan lain-lain”, itulah macam-macam pikiran seorang karyawan.
“Apakah hari ini harga telur, sayur, daging di pasar bisa turun? Apakah masakanku nanti disukai suami dan anak-anak? Apakah anakku hari ini di sekolah baik-baik saja? Apakah suamiku pulang lembur lagi? dan lain-lain”, itulah macam-macam pikiran seorang ibu rumah tangga.
“Apakah hari ini aku bisa memahami pelajaran dari Pak Guru? Apakah hari ini akan banyak PR? Apakah temanku si A akan menyontek lagi? Apakah nilai ujianku bisa lebih baik dari sebelumnya? Apakah bisa lulus cumlaude? dan lain-lain”, itulah macam-macam pikiran seorang pelajar.
Ya itulah sebagian contoh dari segala ketidakpastian yang kita temui sehari-hari, bahkan terkadang dalam mimpi pun kita masih memikirkannya. Mengapa bisa begitu? Ya karena suatu kepastian itu letaknya di depan. Kita hanya bisa mengetahui masa lalu dan sekarang, sedangkan masa depan itu masih misteri, satu detik berikutnya kita tidak tahu apa yang akan terjadi.
Sebagian dari kita mungkin saja terbelenggu akan hal ini, menjadi gelisah, menjadi takut, menjadi was-was, khawatir, curiga berlebihan, apatis bahkan negative thinking secara berlebihan yang akhirnya bisa saja merugikan diri sendiri. Dari hari ke hari pun kita jalankan tanpa adanya suatu kedamaian di hati. Selain daripada kita selalu berusaha melakukan yang terbaik dan bersembahyang kepada yang di Atas (Tian) agar hasil yang diperoleh sesuai harapan kita (mendekati 99% kepastian). Namun ada satu hal penting yang harus selalu kita benahi yaitu sikap batin kita. Bisa saja semua perhitungan dan harapan kita meleset, bagaimana kita menyikapinya ?
Sebuah cerita di bawah ini mungkin bisa menjawab itu.
Dahulu kala hiduplah seorang kakek yang memelihara 2 ekor kuda di sebuah desa di negeri tengah. Suatu ketika, 2 ekor kuda tersebut kabur dari peternakan si kakek menuju ke hutan liar. Orang-orang desa yang mengetahui hal tersebut lalu bersimpati pada si kakek. “Aduh kakek, sial sekali, yang tabah ya”, kata mereka. Ada juga yang menghujat, “Hahaha, rasain kakek kudanya hilang, sukurin.” Ada yang mengambil kesempatan di dalam kesempitan, “Wah kudanya hilang ya kek, ini mau beli kuda saya gak?”. Dan macam-macam komentar lainnya. Si kakek cuma tersenyum dan menjawab “Terima Kasih”.
Waktu pun berlalu, satu bulan kemudian, tiba-tiba seisi desa digemparkan dengan kedatangan puluhan ekor kuda ke peternakan si kakek. Rupanya 2 ekor kuda milik si kakek yang bulan lalu kabur, kembali dengan membawa rombongan teman2-nya, puluhan kuda liar dipandu dan menetap di peternakan si kakek. “Wah kakek hoki sekali, kiong hi ya kek”, “Kakek pasti gembira sekali ya, sekarang punya puluhan ekor kuda”, “Terkutuk ini kuda, kuda haram!” “Kakek, kudanya kan banyak yang datangnya gratis, bolehkah jual murah ke saya beberapa?” Begitulah beragam komentar dari penduduk desa. Mendengar itu semua, kakek hanya tersenyum dan berkata “Terima Kasih”.
Beberapa minggu kemudian, 2 orang pemuda cucu kesayangan kakek yang sedang bermain menunggang kuda terjatuh dan kakinya patah. Berita itu pun tersebar ke tetangga-tetangga. “Ku bilang apa kek, ini kuda haram, lihat sekarang cucumu patah kaki.”, “Huu rasain kakek, dulu gak mau jual kudanya ke saya”, “Aduh kasian ya kakek, sial banget ya” dan lain-lain, dan lain-lain. Kembali komentar-komentar penduduk desa menghiasi kuping kakek. Dan kembali juga si kakek cuma tersenyum dan menjawab “Terima Kasih”.
Tepat 3 hari kemudian, seluruh desa digemparkan dengan kedatangan utusan dari Kerajaan beserta pasukan-pasukannya. Semua orang dikumpulkan di alun-alun desa, kemudian Sang Utusan berkata, “Wahai penduduk desa, sekarang negeri kita sedang diserang oleh musuh, kita sedang berperang, oleh karena itu seluruh pemuda di desa ini wajib ikut pergi berperang.” Akhirnya seluruh pemuda di desa tersebut dibawa pergi ikut berperang kecuali 2 cucu kakek tidak dibawa pergi karena kakinya patah. Kali ini penduduk desa menangis-nangis, sebagian besar dari mereka merasa si kakek kali ini beruntung sekali. “Kakek hoki banget ya, anak saya dibawa pergi berperang, tidak tahu kembali hidup atau mati, huhuhu”, rata-rata begitulah komentar dari penduduk desa. Si kakek seperti biasa hanya tersenyum dan mengucapkan “Terima Kasih”.
Hidup memang penuh ketidakpastian, namun cara kita menyikapinya jauh lebih penting. Sikap batin positif membawa pengaruh positif bagi kehidupan kita kelak. Seperti halnya si Kakek yang tetap tenang, damai dan selalu menanggapi respon dari para warga dengan senyuman.
Leave a Reply