Indikator Kesombongan

Kita mungkin sudah tidak asing lagi dengan karakter/sifat negatif satu ini. Kesombongan atau keangkuhan muncul ketika seseorang merasa lebih tinggi daripada orang lain. Faktanya, banyak orang tidak menyadari bahwa dirinya sudah bersikap sombong dalam kesehariannya. Hal ini dikarenakan orang yang sombong merasa dirinya sudah tidak memiliki kekurangan lagi, termasuk kesombongan itu sendiri. Orang-orang yang sombong merasa ia lebih bijaksana dan rendah hati dibandingkan orang lain. Tentu hal ini akan membutakan diri mereka, bukan? Lalu bagaimana dengan diri kita sendiri? Apakah kita menyadari kesombongan di dalam diri?

Ada beberapa indikator kesombongan yang dapat kita perhatikan untuk menilai diri kita sendiri. Indikator yang pertama adalah seberapa sering kita membicarakan diri sendiri ketika berbincang dengan orang lain. Orang yang sombong cenderung membicarakan kehidupannya, pendapatnya, apa yang dimilikinya, dan segala sesuatu tentang dirinya. Hal ini disebabkan karena ia ingin mendapatkan pengakuan dan penghargaan dari orang lain. Akibatnya, orang yang sombong cenderung tidak mau mendengarkan dan lebih banyak berbicara. Bila kita memiliki sifat seperti ini, maka segera perbaikilah! Jangan selalu mendominasi sebuah percakapan dengan terus berbicara dan tidak mendengarkan! Semakin banyak kita membual dan membanggakan diri sendiri, semakin bodoh kita terlihat di mata orang lain. Orang yang benar-benar bijaksana dan rendah hati akan lebih banyak mendengarkan, memberi kesempatan kepada orang lain untuk berbicara, hingga secara sungguh-sungguh merespon lawan bicaranya.

Indikator kedua adalah mengenai minta maaf dan memaafkan. Orang yang sombong mempunyai pemikiran bahwa ia harus bisa memaafkan orang yang berbuat salah kepada dirinya. Hal ini dikarenakan ia memposisikan dirinya lebih tinggi dan benar daripada orang lain. Namun, apakah orang yang sombong pernah terpikir untuk meminta maaf kepada orang lain? Pastinya tidak. Memaafkan memang merupakan suatu perilaku yang positif, tetapi meminta maaf mempunyai level yang jauh lebih tinggi daripada memaafkan. Meminta maaf atas kesalahan, baik yang sengaja maupun tidak sengaja kita perbuat, merupakan hal yang sangat sulit dilakukan oleh orang yang sombong. Mari kita renungkan kembali bagaimana kita memandang orang lain! Bila kita selalu merasa harus memaafkan orang lain atas kesalahannya, maka berhati-hatilah terhadap kesombongan di dalam hati kita! Manusia tidak terlepas dari kesalahan, termasuk diri kita. Bila kita tidak pernah meminta maaf kepada orang-orang terdekat, maka kita telah bersikap sombong dan merasa paling benar.

Indikator ketiga adalah ketika menerima pendapat atau masukan dari orang lain. Orang yang sombong biasanya tidak mau mendengarkan pendapat orang lain dan malah cenderung merendahkannya. Hal ini sekali lagi disebabkan karena ia merasa dirinya lebih benar daripada orang lain sehingga ia memandang rendah pemikiran yang berbeda darinya. Kesombongan membuat ia sulit untuk menerima kritikan, bahkan kritikan yang membangun sekali pun. Akibatnya, proses pembelajaran dan merevisi diri menjadi terhambat. Terlebih lagi, orang-orang tidak akan menyenangi orang yang sombong. Maka dari itu, kita harus menghargai perbedaan pendapat. Kita tidak boleh terlalu cepat mengambil kesimpulan bahwa diri kita benar dan orang lain salah. Untuk menekan sifat sombong, kita harus banyak merenung dan melakukan refleksi pada diri sendiri. “Bagaimana bila diriku selama ini keliru?” Pertanyaan seperti ini sangat penting untuk ditanyakan secara rutin kepada diri sendiri untuk melatih diri agar lebih bijaksana dan rendah hati.

Leave a Reply

Your email address will not be published.