Transactional dan Transformational Leadership

Dalam beberapa aspek di kehidupan, seseorang akan merasa lebih nyaman ketika mengerjakan sesuatu secara berkelompok dibanding secara individu. Sehingga ketika terbentuk suatu kelompok atau organisasi, maka akan ada satu orang yang akan menjadi pemimpin untuk membantu mengorganisir guna mencapai tujuan dari suatu kelompok atau organisasi tersebut.

Kualitas dari seorang pemimpin sangat penting dalam kelompok atau organisasi, segala hal yang akan dilakukan oleh seorang pemimpin, baik atau buruk akan berpengaruh pada hasil.

Menurut King (2014), terdapat dua jenis kepemimpinan yang utama yaitu transactional leadership dan transformational leadership.  Menurut Bass (dalam King, 2014) transactional leadership adalah pemimpin yang menekankan timbal balik hubungan antara pemimpin dengan pekerja atau bawahannya dengan menerapkan prinsip “Anda melakukan pekerjaan yang baik, maka saya akan memberikan penghargaan”.

Terkadang seorang pemimpin melihat dirinya hanya bertanggung jawab untuk menjalankan tugasnya, tetapi tidak mengubah banyak hal. Pemimpin percaya bahwa orang-orang akan termotivasi dengan diberikannya penghargaan atas pekerjaan yang mereka capai. Jika dilihat dari teori kepribadian, pemimpin dengan tipe transactional cenderung memiliki kesadaran dan keramahan yang rendah (King, 2014).

Sedangkan transformational leadership adalah individu dinamis yang memiliki kharisma, semangat, dan visi pada posisinya. Pemimpin dengan tipe transformational mereka melakukan apa yang mereka yakini benar, dan menjadi panutan bagi karyawan dengan menginspirasi orang lain untuk melakukan yang terbaik. Selain itu transformational leadership juga membutuhkan masukan atau saran dari karyawan mereka, karena mereka sendiri merasa tidak selalu memiliki jawaban yang tepat atau cocok untuk permasalahan dalam kelompok atau organisasi. Satu perbedaan penting antara pemimpin dengan tipe transactional dan transformational terletak pada pendekatan mereka terhadap budaya di tempat kerja. Pemimpin dengan tipe transactional bekerja dalam konteks budaya di dalam tempat kerja tersebut, sedangkan pemimpin tipe transformational berusaha untuk menyesuaikan atau mengubah budaya di tempat kerja.

Dari penjelasan mengenai kepemimpinan transformational dan transactional, keduanya memiliki keunggulan dan kelemahannya masing-masing. Bukan berarti yang satu lebih bagus dan yang satu tidak, namun ketika dua jenis kepemimpinan ini dapat mengisi kelebihan maupun kekurangan dari masing-masing, maka hasil yang didapatkan akan jauh lebih baik. Semua orang pasti memiliki jiwa kepemimpinan, dengan semakin diasah kemampuan dan pengetahuan, maka seseorang bisa menjadi pemimpin yang hebat, baik dalam lingkungan pribadi maupun lingkungan sosial bermasyarakat.

Leave a Reply

Your email address will not be published.