
Gong De (amal) adalah perbuatan yang dilakukan dengan tujuan untuk kebaikan terhadap sesama manusia. Meskipun tujuannya untuk kebaikan orang lain, tetapi sebetulnya adalah untuk kebaikan diri sendiri. Mengapa demikian?
Kita mempercayai hukum sebab-akibat, tindakan (sebab) yang kita perbuat akan menciptakan kondisi (akibat) kita. Kita berbuat kebaikan berarti kita sedang melakukan sebab yang baik dengan harapan akan membuat kondisi (akibat) yang baik pula untuk kita.
Gong de bisa dikatakan dapat mengubah nasib seseorang menjadi lebih baik atau setidaknya bisa mengurangi hal-hal yang kurang baik pada kehidupannya.
Meskipun teorinya seperti ini, tetapi dalam prakteknya, berbuat kebaikan sebaiknya tidak perlu dihitung untung ruginya (pamrih). Kebaikan dengan rasa pamrih bukanlah gong de yang sesungguhnya.
Untuk berbuat amal kebaikan, asalkan kita mampu maka lakukan lah. Tidak perlu menunggu atau melihat siapa yang membantu lebih dahulu baru kita ikut turun tangan. Berbuat kebaikan karena seharusnya dilakukan. Kita seharusnya bersyukur diberi kesempatan untuk berbuat baik.
Gong de yang dilakukan sebaiknya adalah perbuatan baik dengan banyak manfaat untuk kepentingan orang banyak, seperti pembangunan tempat ibadah atau ikut berpartisipasi dalam kegiatan sosial. Hal ini juga bukan berarti perbuatan gong de terhadap individu tidak dihargai.
Semua perbuatan baik, apapun itu pasti tidak akan sia-sia. Bahkan sebuah senyuman dan raut muka ramah dapat membuat seseorang yang merasa hari-harinya berlangsung buruk akan merasa lebih baik dan bersemangat. Itupun sudah merupakan suatu gong de.
Selain memberikan sumbangan berupa uang, memberi kemudahan kepada orang lain serta tidak menyulitkan orang lain juga adalah bentuk lain dari gong de.
Apapun bentuk gong de-nya, yang utama adalah kita melakukannya dengan tulus tanpa paksaan dan tanpa embel-embel untuk mendapatkan sesuatu. Apabila kita sudah terbiasa menjalankan gong de dengan benar, maka hal itu sudah bukan menjadi beban dan keharusan, karena berbuat baik sudah menjadi karakter kita.
Di dalam buku Ciang Ie dikatakan, “Ada kesempatan berbuat jahat tapi tidak mau berbuat, itu adalah SAN (kebajikan). Dapat berbuat kebaikan tapi tidak sudi berbuat, itu adalah bejad.” Orang Siu Tao mengharapkan umur panjang, supaya memiliki banyak kesempatan untuk berbuat kebaikan. Mari membiasakan diri kita berbuat kebaikan untuk kehidupan yang lebih baik.
Leave a Reply